Selasa, 26 Mei 2009

Aku merasa jelek, tapi aku tidak pernah memaksa seseorang berpendapat bahwa aku jelek begitu pula sebaliknya

Ada kalanya kita berbuat baik dan ada kalanya kita berbuat buruk
dan aku kira semua orang pernah melakukan keduanya
Emh ... sebentar .... Apakah aku sudah banyak berbuat baik?
Hah .. Ternyata jawabanya berbeda-beda
Tergantung dari siapa yang menilaiku
Jadi bingung ...

Dulu waktu kecil aku pernah bermain diluar rumah saat hujan, sangat dingin ..
Betapa kagetnya aku setelah selesai bermain dan langsung mandi
Wuih ... Air mandi ku terasa hangat, padahal tanpa menggunakan penghangat
Dari situ aku mulai sadar bahwa aku merasa hangat karena sebelumnya aku ada di tempat yang lebih dingin daripada suhu air di kamar mandiku
Berarti ini sama halnya dengan ketika aku merasa kedinginan saat mandi tiap hari
Mungkin karena sebelumnya aku berada di kamarku yang suhunya lebih hangat daripada air kamar mandiku, nggak salah kalau aku merasa kedinginan saat mandi ..
Lantas ...
Apabila aku dari tempat yang tidak berbeda jauh suhunya bagaimana?
yang jelas aku akan sulit membedakan lagi ....

Dari sini kita dapat mencermati, bahwa kita tidak dapat menilai baik buruk perbuatan seseorang hanya dari pandangan kita, karena kebenaran itu bersifat relatif terhadap penilai.
Yang bisa kita kita nilai adalah kelakuan diri kita sendiri terhadap niatan kita
jika niat kita baik dan kita laksanakan dengan baik maka kita termasuk orang yang baik menurut kita, tapi sayangnya hal ini juga belum tentu baik bagi orang lain
sehingga aku pun menjadi bertambah bingung ...
yang menjadi lebih bingung lagi adalah kenapa niat tidak baik masih ada saja dalam benak ku
mungkin karena aku adalah manusia ..

Em... Bagaimana ya ...?
Ah... akhirnya ...
Bagaimana jika aku bawa termometer aja saat mandi..?
Aku nantinya tidak akan lagi mengatakan bahwa air ini dingin atau hangat
yang bisa aku katakan adalah suhunya segini sigitu dan sebagainya
mungkin cara ini lebih dapat diterima oleh yang lain
sebab jika aku bilang "hangat" atau "dingin" pada seseorang, belum tentu dia percaya
sama halnya saat aku mengerjakan soal ujian, jika aku bilang "sulit" atau "mudah" mereka pun akan bilang semua tergantung dari diriku ...
apalagi saat bilang makanan ini enak atau enggak, jelas mereka nggak percaya sebab di lidahku semua terasa enak .... ha ha ..

Termometer ... termometer ... hmmm.... sebentar ... termometer itu sebenarnya apaan sih?
kok benda itu bisa lebih diterima daripada ucapan ku?
ternyata termometer adalah suatu alat pembanding suhu yang sudah diterima oleh umum
suhu adalah besarnya energi kinetik antar molekul yang menyebabkan suatu benda mengalami pergetaran atomik
tapi sayangnya metode untuk mengukur besarnya energi kinetik ini ternyata bermacam-macam
sehingga muncul berbagai macam termometer, yang sebenarnya tidak jauh berbeda hasilnya

Dalam kehidupan kita pun ada metode untuk mengukur kebenaran yang sudah diterima secara umum
Ya .. benar .... agama ...
agama adalah pembanding yang sudah diterima secara umum
Baik-buruk seseorang akan dicerminkan dari ketaatan terhadap aturan dari agama yang dianutnya
jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh agamanya maka dia dikatakan salah
dan itu adalah relatif terhadap agama yang lain

Dalam menyelesaikan persamaan fisika, kita tidak bisa menjumlahkan nilai dari dua satuan yang berbeda
misalkan 300 Kelvin + 10 Celsius, hasilnya bukan 310 Kelvin atau 310 Celsius, maka kita harus merubah satuan tersebut agar menjadi satuan yang sama misalkan sama-sama Celsius atau sama-sama dalam Kelvin
dengan begitu akan dihasilkan jawaban yang dapat diterima semua pihak
begitupula dalam menilai kebenaran seseorang, kita tidak boleh mengatakan baik-buruk seseorang dari pandangan kita, sebab belum tentu orang akan menerima

Kita tidak boleh memaksakan kebenaran versi kita, seperti halnya 300 Kelvin + 10 Celsius kita tidak boleh memaksakan menjadi 310 Kelvin atau 310 Celsius
Lebih baik kita mengatakan baik-buruk itu berdasarkan sudut pandang agama yang dianutnya.

Nah sekarang coba kita tanya pada diri sendiri,
Apakah kita sudah berbuat baik?
ternyata kita baru sadar bahwa kita tidak akan bisa mengatakan bahwa kita telah berbuat baik atau buruk
yang bisa kita katakan adalah aku mempunyai niat baik atau aku punya niat buruk atau aku tidak punya niatan
dan memang niat baik itulah yang menjadi tolak ukur kebenaran relatif dari sesorang terhadap umum
dan orang tanpa niat bukan merupakan orang yang baik atau yang buruk dan tidak bisa dibenarkan atau disalahkan

Dari sini kita tidak perlu membahas baik buruk seseorang dilihat dari segala pandangan
sebab hal itu percuma, sangat percuma

Yang lebih penting dari energi kinetik dari suatu benda adalah momentum terhadap benda lain
Jika getaran benda yang dihasilkan dari energi kinetik tersebut membentur benda lain, maka akan terjadi selisih momentum atau biasa disebut dengan impulse atau gaya.
bisa saja terjadi tiga kemungkinan yakni
lenting sempurna, lenting sebagian atau tidak lenting sama sekali

Artinya adalah saat kita memberikan kebenaran secara umum kepada orang lain, maka tidak berarti mereka selalu akan dapat menerimanya
Mereka bisa menolak, menerima atau mengikuti sebagian saja

Yang lebih penting dari semua itu adalah jangan sampai kebenaran kita justru akan membuat perpecahan diantara kita.
Oleh sebab itu cara terbaik untuk memberitahukan suatu kebenaran kepada orang lain adalah dengan melalui contoh.
dengan memberikan contoh maka kita tidak memaksa atau bahkan menyuruh seseorang agar percaya dengan kebenaran yang kita anut, kita hanya memperlihatkan
Jika memang kebenaran kita berbeda dengan yang lain, itu wajar ...
Biarlah
Kebenaran ini untuk diri kita sendiri dan kebenaran mereka bagi mereka sendiri
biarkan mereka berfikir sendiri tentang kebenaran versi mereka dan selama kebenaran tersebut tidak menggangu kehidupan kita atau kehidupan yang lain
Sebab tiap manusia ber hak dan berkewajiban menjaga kehidupan mereka masing-masing

Inti dari tulisan ini adalah bahwa kebenaran tidak dapat dipaksakan, yang harus dipaksakan adalah niatan kita
Kita harus selalu berniat baik menjalankan kebenaran yang kita anut.

3 komentar:

fedtetpige mengatakan...

pertama kali liat kaka yayak agak serem, abis tatapan matanya itu loh
tapi ternyata setelah kenal kak yakyak baik kok, lembut hatinya hehehe
selalu mendukung lagi, walopun di ajak mancing sampe hancur2 badannya dia rela
^^

Yayak mengatakan...

Khusus kalo untuk yang itu aku sangat tidak rela sekali, itu namanya pemaksaan. Habis ini aku nggak mau lagi diajak mancing di Gwangali. (titik)

fedtetpige mengatakan...

hahaha kalo di ajak nyangkul mau? (judulnya aja beda, ceritanya sama, tapi versi di sawah, peran semut di ganti dengan lintah, peran anjing di ganti dengan musang) mau mau?